PKS GO PKS

Di Ujung Sahur, Jika Kita Bertemu Rasulullah

 


Oleh: Murtini


Dunia masih sunyi.
Jam menunjukkan waktu sahur.
Sebagian rumah masih gelap, sebagian lagi mulai menyala pelan. Di dapur, air mendidih. Di meja, hidangan tersusun. Alarm berbunyi. Mata dibuka dengan berat. Lalu hari-hari sahur pun berlalu seperti biasa: makan, minum, lalu kembali bergegas pada rutinitas.

Namun, bayangkan sejenak…
bagaimana jika kita tidak berada di dapur kita,
melainkan di Madinah, berabad-abad yang lalu?
Malam itu dingin. Langit gelap, tetapi terasa dekat. Angin berhembus pelan. Tidak ada keramaian. Tidak ada suara kendaraan. Hanya sunyi yang hidup.
Di sebuah rumah sederhana, ada seseorang yang bangun sebelum fajar.
Beliau tidak membangunkan siapa pun.
Langkahnya pelan. Wudhunya tenang.
Seolah setiap tetes air yang menyentuh wajahnya adalah percakapan lembut antara hamba dan Rabb-nya.

Bayangkan… kita duduk di sudut ruangan itu.
Diam. Tidak berani bersuara.
Dan di hadapan kita berdiri Rasulullah ﷺ.
Beliau shalat. Lama. Khusyuk.
Bacaan ayatnya pelan, tetapi menembus dada.
Sesekali bahunya bergetar. Air mata jatuh tanpa suara.

Lalu kita, dengan hati bergetar, memberanikan diri bertanya:
“Ya Rasulullah… mengapa engkau menangis di waktu sahur seperti ini?”
Beliau terdiam sejenak.
Suaranya lembut. Penuh kasih.
“Bagaimana aku tidak menangis, ketika Allah menurunkan ayat tentang langit dan bumi, tentang malam dan siang, lalu ada umatku yang membacanya tetapi tidak merenungkannya?”

Sunyi kembali memenuhi ruangan. Kita menunduk. Karena kita tahu… sering kali kita membaca, tetapi jarang merasakan.
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya. Tidak tergesa. Tidak panjang dengan kata-kata yang rumit. Hanya doa yang sederhana, tetapi sangat dalam:
“Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal ‘afiyah…”
“Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.”

Kita tertegun. Dalam hati kita berbisik,
“Bukankah engkau telah diampuni, ya Rasulullah? Bukankah engkau kekasih Allah?”
Seakan mengetahui kegelisahan itu, beliau menoleh dengan senyum yang lembut.
“Seorang hamba tidak pernah berhenti membutuhkan Rabb-nya.”
Air mata beliau belum berhenti.
Doa itu belum berhenti.
Dan yang membuat dada semakin sesak…
doa itu bukan hanya untuk dirinya.

Kita memberanikan diri bertanya lagi, dengan suara yang hampir patah:
“Ya Rasulullah… apakah engkau hanya berdoa untuk dirimu di waktu sahur ini?”
Beliau menggeleng pelan.
“Tidak. Aku memikirkan umatku.
Yang lelah. Yang berdosa. Yang merasa doanya tak didengar. Yang bangun sahur hanya untuk makan, tetapi lupa mengetuk pintu langit.”
Kita terdiam. Hati terasa hangat sekaligus perih.

Bayangkan… di waktu sahur yang kita jalani dengan tergesa, ada seorang Nabi yang justru memperlambat langkahnya untuk menyebut umatnya satu per satu dalam doa.
Lalu beliau berbisik lagi:
“Allahumma ja‘alni minal muttaqin…”
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”
Kita tersentak.
“Ya Rasulullah… engkau masih memohon ketakwaan?”
Beliau menatap dengan penuh kelembutan, seakan sedang menenangkan jiwa yang gelisah.
“Ketakwaan bukan milik yang merasa suci,
tetapi milik yang terus meminta.”

Waktu sahur hampir berakhir. Langit mulai berubah warna. Fajar sebentar lagi datang.
Kita pun, dengan penuh rasa malu, bertanya pertanyaan yang paling jujur:
“Ya Rasulullah… jika aku datang di waktu sahur dengan dosa yang banyak, dengan hati yang sering lalai, apakah Allah masih mau mendengarku?”
Beliau tersenyum. Senyum yang menenangkan. Senyum yang tidak menghakimi.
“Justru karena itu kamu harus datang.
Allah tidak menunggu kamu sempurna.
Allah menunggu kamu kembali.”

Sunyi kembali turun. Tetapi kali ini, sunyi yang menghidupkan. Bayangan itu perlahan memudar.
Kita kembali ke meja sahur kita. Ada makanan. Ada minuman. Ada waktu yang sama—sepertiga malam terakhir. Namun kini, sahur tidak lagi terasa biasa. Karena kita baru saja membayangkan sesuatu yang menggetarkan:
di waktu yang sama, dahulu, Rasulullah ﷺ bangun bukan hanya untuk sahur…
tetapi untuk menangis, berdoa, dan memohonkan ampunan bagi umatnya.
Termasuk kita.

Maka ketika alarm sahur berbunyi malam ini,
mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya,
“Sudah makan atau belum?”
Tetapi:
“Sudahkah aku berdoa seperti seorang hamba yang benar-benar membutuhkan Tuhannya?”
Sebab sahur bukan hanya tentang menguatkan tubuh untuk berpuasa.
Sahur adalah undangan sunyi dari langit.
Undangan untuk berdoa.
Untuk meminta ampun.
Untuk kembali.
Dan siapa tahu…
di waktu sahur yang hening itu,
doa kita yang lirih justru lebih didengar daripada kata-kata yang paling lantang.


0 Response to "Di Ujung Sahur, Jika Kita Bertemu Rasulullah"

Posting Komentar

PKS GO PKS