PKS GO PKS

Sahur yang Sunyi, Cinta Nabi yang Tak Pernah Sepi

 


Oleh : Murtini

Dunia menjelang sahur selalu memiliki wajah yang berbeda. Sunyi, tetapi hidup. Gelap, tetapi justru paling dekat dengan cahaya. Di saat manusia masih terlelap dalam pelukan tidur, ada waktu yang diam-diam dibuka oleh langit—waktu ketika doa tidak perlu berteriak untuk didengar.

Dalam tradisi Islam, sepertiga malam terakhir bukan sekadar sisa waktu sebelum fajar. Ia adalah ruang perjumpaan. Ruang hening antara hamba dan Tuhannya. Dan pada waktu inilah, Rasulullah ﷺ justru paling hidup dalam munajatnya.

Istri beliau, Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, pernah menyaksikan malam-malam itu: bahu yang berguncang, air mata yang jatuh tanpa suara, dan doa yang mengalir panjang dalam gelap. Bukan karena takut pada dunia. Bukan pula karena gelisah pada takdir. Tetapi karena kesadaran yang sangat dalam akan kebesaran Allah.

Ketika turun ayat:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

(QS. Ali Imran: 190–191)

Rasulullah ﷺ menangis.

Bukan sekadar membaca, tetapi merenungi. Bukan sekadar menghafal, tetapi menghidupkan ayat dalam dada. Di situlah letak kegelisahan beliau: bukan pada umat yang tidak tahu, tetapi pada umat yang membaca tanpa berpikir, beribadah tanpa rasa hadir.

Di waktu sahur, doa beliau bukanlah doa kemegahan. Tidak pula doa panjang yang sulit diingat. Justru sebaliknya, doa yang sederhana, tetapi sangat dalam maknanya:

“Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal ‘afiyah.”

“Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.”

Betapa menggetarkan. Seorang Nabi yang telah diampuni dosa-dosanya, yang dijamin surga, yang paling dicintai Allah, masih memohon ampunan dan keselamatan. Doa ini seakan menjadi pelajaran abadi: semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa membutuhkan-Nya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga memohon ketakwaan:

“Allahumma ja‘alni minal muttaqin.”

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”

Di sinilah letak paradoks spiritual yang sering luput dari kesadaran kita. Nabi yang paling suci masih memohon ketakwaan. Lalu bagaimana dengan kita yang masih penuh khilaf, lalai, dan sering menunda taubat?

Sahur, dalam perspektif Rasulullah ﷺ, bukan sekadar jeda makan sebelum puasa. Ia adalah momentum ruhani. Waktu ketika langit seakan membuka pintu lebih lebar bagi permohonan hamba. Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Allah berfirman bahwa Dia turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir seraya berseru: adakah yang berdoa, maka Aku kabulkan; adakah yang meminta ampun, maka Aku ampuni.

Seruan ini bukan hanya untuk para ulama. Bukan hanya untuk para ahli ibadah. Tetapi untuk setiap hamba yang mau datang—dengan mata berat, hati lelah, dan dosa yang mungkin belum sempat ditangisi.

Di sinilah dimensi lain dari doa sahur Rasulullah ﷺ yang jarang dibicarakan: doa untuk umatnya.

Beliau tidak hanya memohon untuk diri sendiri. Beliau memikirkan mereka yang lemah, yang terluka, yang terasing dalam sunyi kehidupannya. Umat yang mungkin merasa doanya tak sampai ke langit. Umat yang merasa terlalu banyak dosa untuk kembali. Umat yang merasa tidak pantas untuk didengar.

Padahal justru pada saat itulah, Rasulullah ﷺ mengajarkan adab paling lembut dalam berdoa: datanglah sebelum merasa layak. Karena Allah tidak menunggu kesempurnaan, tetapi kedatangan.

Sahur akhirnya menjadi cermin. Apakah ia hanya kita isi dengan tergesa-gesa menyiapkan makanan? Ataukah kita isi dengan jeda doa yang pelan namun penuh makna?

Sayangnya, modernitas sering merampas kesunyian sahur. Alarm berbunyi, tangan sibuk dengan gawai, meja penuh hidangan, tetapi hati kosong dari munajat. Kita makan, tetapi lupa mengetuk pintu langit. Kita bangun, tetapi tidak benar-benar hadir.

Padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah menyia-nyiakan waktu ini. Bahkan di hari-hari terakhir hidupnya, saat tubuh beliau lemah dan demam tinggi, malam tetap menjadi tempat kembali. Tangannya tetap terangkat. Bibirnya tetap berdoa. Air matanya tetap jatuh untuk umatnya.

Maka, pertanyaan yang patut kita renungkan bukan lagi: “Apa yang dimakan saat sahur?”

Melainkan: “Apa yang didoakan saat sahur?”

Sebab boleh jadi, kekuatan puasa kita bukan ditentukan oleh banyaknya makanan yang masuk, tetapi oleh banyaknya doa yang naik.

Dan mungkin, di antara doa-doa sederhana yang paling layak kita hidupkan kembali adalah doa yang dicontohkan Nabi: memohon ampunan, keselamatan, dan ketakwaan. Doa yang pendek, tetapi mengandung seluruh kebutuhan manusia di dunia dan akhirat.

Pada akhirnya, sahur adalah undangan Ilahi. Undangan yang datang setiap malam, tanpa surat, tanpa pengumuman, tanpa keramaian. Hanya sunyi. Hanya langit. Hanya hati.

Tinggal satu pertanyaan yang tersisa:

ketika undangan itu datang, apakah kita hanya bangun untuk makan—atau juga untuk pulang kepada Allah?

0 Response to "Sahur yang Sunyi, Cinta Nabi yang Tak Pernah Sepi"

Posting Komentar

PKS GO PKS