PKS GO PKS

Ramadan dan Kerinduan untuk Khatam

 


Oleh : Murtini

Ramadan selalu datang dengan denyut yang berbeda. Ia bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, melainkan ruang batin yang dibuka Allah agar manusia kembali menata arah. Dalam bulan inilah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Para ulama menyebutnya Syahrul Qur’an—bulan Al-Qur’an.

Maka, jika kita bertanya mengapa perlu mengupayakan khatam Al-Qur’an di Ramadan, jawabannya bukan sekadar karena tradisi atau target pribadi. Ia adalah bentuk penyambutan terhadap turunnya wahyu. Ia adalah ungkapan rindu seorang hamba kepada kalam Tuhannya.

Di tengah dunia yang gaduh oleh notifikasi dan opini, Al-Qur’an hadir sebagai penjernih. Ramadan memberi kita jeda. Siang hari yang lebih hening, malam yang lebih panjang, dan hati yang lebih lunak oleh lapar dan dahaga. Dalam suasana seperti itulah, tilawah menemukan maknanya yang paling jernih.

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an bernilai satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh (HR Tirmidzi). Bayangkan, di bulan ketika pahala dilipatgandakan, setiap alif, lam, dan mim menjadi investasi akhirat yang tak terhitung. Khatam bukan lagi sekadar hitungan halaman, melainkan rangkaian huruf yang menjelma cahaya.

Lebih dari itu, Rasulullah sendiri memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an di Ramadan. Dalam riwayat Ibnu Abbas, Malaikat Jibril menemui Nabi setiap malam untuk murajaah Al-Qur’an (HR Bukhari). Pada tahun wafatnya, beliau mengkhatamkannya dua kali. Tradisi ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi teladan tentang bagaimana Ramadan menjadi momentum intensifikasi hubungan dengan wahyu.

Memang, mengkhatamkan Al-Qur’an bukan kewajiban. Namun para ulama menganjurkan memperbanyak tilawah di bulan ini. Anjuran itu bukan untuk membebani, tetapi untuk mengingatkan: Ramadan terlalu berharga jika dilewatkan tanpa kedekatan dengan Al-Qur’an.

Kita hidup di zaman ketika kesibukan sering menjadi alasan. Namun justru di sinilah Ramadan menjadi sekolah disiplin ruhani. Satu juz sehari terasa berat di awal, tetapi menjadi ringan ketika diniatkan sebagai pertemuan harian dengan Allah. Bahkan bagi yang belum mampu satu juz, beberapa halaman yang dibaca dengan tadabbur bisa lebih bermakna daripada lembaran yang dilalui tanpa rasa.

Khatam, pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling cepat. Bukan pula ajang membandingkan capaian. Ia adalah simbol kesungguhan. Sebuah komitmen untuk memberi ruang lebih besar bagi kalam Allah dalam hidup kita. Sebuah pengakuan bahwa petunjuk itu harus dihadirkan kembali, bukan hanya disimpan di rak.

Bagi kader dan simpatisan yang bergerak di medan dakwah dan pelayanan umat, Ramadan adalah titik pengisian ulang. Gerak sosial tanpa asupan ruhani akan kering. Aktivisme tanpa Al-Qur’an mudah kehilangan arah. Maka menjadikan Ramadan sebagai bulan khatam adalah bagian dari menjaga stamina perjuangan—agar langkah tetap lurus, niat tetap bersih, dan hati tetap rendah di hadapan Allah.

Ramadan selalu terbatas waktunya. Ia datang dan pergi. Yang tertinggal adalah jejak: apakah kita semakin dekat dengan Al-Qur’an, atau justru kembali menjauhinya setelah takbir Idulfitri berkumandang.

Karena itu, mari kita upayakan khatam bukan sebagai beban, tetapi sebagai kerinduan. Bukan sekadar menamatkan bacaan, tetapi memulai kembali hubungan yang lebih intim dengan wahyu.

Semoga Ramadan ini menjadi saksi bahwa kita bukan hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi juga kembali meneguhkan diri sebagai umat yang hidup bersama Al-Qur’an.


0 Response to "Ramadan dan Kerinduan untuk Khatam"

Posting Komentar

PKS GO PKS